• S e l a m a t     D a t a n g     D i     W e b s i t e     S M K    N E G E R I    1    R O B A T A L    S A M P A N G
Resensi Buku : Guru Seharusnya Mendidik (Dengan) Sepenuh Hati

Resensi Buku : Guru Seharusnya Mendidik (Dengan) Sepenuh Hati

Judul : 95 Strategi Mengajar Multiple Intelligences, Mengajar Sesuai Kerja Otak dan Gaya Belajar Siswa

Penulis : Alamsyah Said, S.Pd, M.Si & Andi Budimanjaya, S.Pd

Penerbit : KENCANA (PRENADAMEDIA GROUP)

Cetakan : Ke-1, Juli 2015

Tebal : xvii, 332 hlm, 18.5 x 23 cm

ISBN : 978.601-1186.80.0 153.9

Mendidik berbeda dengan mengajar. Mendidik, disamping mentransfer ilmu pengetahuan juga adanya pembentukan karakter pada peserta didik. Baik dalam bentuk keteladan guru maupun sentuhan hati pendidik kepada peserta didik saat berinteraksi berbentuk nasehat dan motivasi. Ini terdapat di sekolah atau madrasah (baca : pesantren) formal maupun non formal. Sedangkan mengajar hanya sekedar mentransfer ilmu saja. Contoh lembaga kursus kejuruan yang mengedepankan penguasaan skill/keterampilan semata.

Proses pendidikan akan berhasil bila pendidik dan peserta didik (baca : murid) bersinergi dalam pembelajaran. Ibarat tepuk tangan. Guru tangan kanan dan murid tangan kiri. Bila kedua tangan ini bergerak saling menepuk satu sama lain akan menghasilkan suara yang keras juga indah. Namun sebaliknya bila salah satu keduanya tidak melakukan pergerakan yang sama maka tidak akan menghasilkan suara. Begitulah pendidik dan murid harus bersinergi untuk menggapai tujuan pembelajaran sesuai target yang ingin dicapai.

Buku dengan tebal lebih dari 330 halaman ini bercerita banyak tentang strategi mengajar. “95 strategi mengajar multiple intelengences, mengajar sesuai kerja otak dan gaya belajar siswa” sebuah judul yang bombastis dan membuat penasaran pembaca tentang apa isi yang terkandung didalamnya.

Diawali dengan membongkar mitos, siswa bodoh itu mitos. Alamsyah Said dan Andi Budimanjaya menampilkan fenomena anak-anak yang salah dalam proses pengajarannya. Sehingga anak-anak ini divonis sebagai anak yang bodoh. Padahal ketika dirubah strategi mengajarnya dengan metode yang tepat dengan guru terbaik pula maka anak-anak tersebut bisa berprestasi bahkan bisa menjuarai olimpiade matematika tingkat asia dengan perolehan medali emas. Di halaman pertama buku ini diceritakan kisah nyata anak Papua, 4 tahun tidak naik kelas berhasil menjuarai olimpiade matematika-sains tingkat Asia.

Kisah nyata dalam buku ini mengenai sekelompok anak-anak paling “bodoh” asal Papua menjuarai olimpiade sains tingkat dunia. Host Kick Andy, Andi F. Noya dalam sebuah acara televisi nasional menampilkan kisah heroik keempat anak-anak asal Papua ini. Didampingi mentornya Prof. Yohanes Surya, Anak-anak ini, Tina, Demira, Kohoy dan Christian, adalah anak-anak yang dianggap paling bodoh di sekolahnya. Tina misalnya, 4 tahun tidak pernah naik kelas. Di Akademi Surya. Yohanes Surya mendidik keempat anak-anak tersebut dengan strategi dan metode yang tepat. Para siswa dilatih memahami logika dasar, fungsi dan kegunaan materi. Sebelumnya keempat anak-anak tersebut belum bisa menulis dan dan mengkalkulasi dengan benar. Metode ajar yang tepat menekankan pada kegiatan belajar fun dan kreatif. Memotivasi sisi afektif keempat anak tersebut Yohanes Surya berhasil mematahkan teori usang, bahwa tidak ada yang bodoh, yang ada adalah mereka belum menemukan guru/pendidik yang baik dengan metode yang tepat. (hal 1-3).

Prof. Surya mengatakan, tidak anak yang bodoh, yang ada mereka belum menemukan guru/pendidik yang baik dan metode yang tepat. Pendapat ini layak direnungkan oleh guru/pendidik. Jangan-jangan selama ini kita salah dalam mendidik murid, sehingga output dari sekolah tidak seperti yang diharapkan.

Beberapa contoh lain dikemukakan dalam buku ini. Antara lain Nisrina Salsabila seorang murid TK di Kota Tangerang yang dianggap bodoh karena belum bisa membaca sampai menjelang sekolah dasar. Namun kini, Nisrina punya hobi membaca, menyenangi sains, Matematika dan Bahasa Inggris. Kejadian Nisrina bisa terjadi disekeliling kita. Namun kadang kita tak menyadarinya.

Thomas Alva Edison dan Albert Einstein juga semasa kecilnya dianggap bodoh karena pertanyaan-pertanyaan dan prilakunya dianggap aneh. Einstein kecil berprilaku seperti ayam dengan mengerami telur hanya untuk mengetahui “ bagaimana proses ayam sampai menetaskan telurnya”. Namun siapa sangka, Einstein menjadi ilmuan hebat (hal 6).

Alamsyah Said dan Adi Budimanjaya mengatakan seorang guru mengajar belum tentu peserta didik belajar. Sebab mengajar dan belajar dua proses yang berbeda. Walau dalam satu waktu dan satu tempat. Sejatinya, fitrah manusia memang dikarunia otak yang berisi berjuta kecerdasan bergantung sipemilik otak untuk mengaktifkannya.

Secara runtut buku ini menyuguhkan penjelasan tentang kecerdasan, cara kerja otak, penilaian yang manusiawi dan 95 strategi mengajar Multiple Intellenges. Untuk mempermudah dalam memahami “95 strategi mengajar Multiple Intellenges : mengajar sesuai kerja otak dan gaya belajar siswa”, Penulis buku ini membaginya ke dalam 8 kelompok strategi mengajar berdasarkan gaya belajar siswa yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematis, kecerdasan spasial visual, kecerdasan musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis (hal 32-306).

Penjelasan 95 strategi mengajar dalam buku ini cukup detail. Dimulai dari definisi, strategi penyusunan pembelajaran, prosedur penerapannya, rekomendasi penerapan strategi pembelajaran, pendekatan yang digunakan sampai rubrik penilaian diulas tuntas. Bagi guru yang berjiwa kreatif dan inovatif tidak menutup kemungkinan dapat memperbanyak jumlah strategi mengajar selain yang terdapat dalam buku ini.

Yang kurang mendapat perhatian penulis dalam buku ini adalah unsur kejiwaan guru atau pendidik. Ulasan strategi mengajar memang patut diacungi jempol. Dikupas tuntas. Namun unsur kejiwaann guru atau pendidik terlupakan padahal hal ini berperan besar dalam mensukseskan sebuah pembelajaran. Sehebat apapun strategi pembelajaran yang digunakan tapi pendidik atau gurunya tidak melibatkan jiwanya dalam mendidik, nuraninya dalam bertindak atau membuat keputusan dan hatinya dalam menilai atau mengevaluasi ataupun bersikap maka pembelajaran akan menjadi hambar. Tanpa nilai-nilai kasih sayang pendidik atau guru kepada muridnya tidak akan terjadi hubungan emosional yang erat antara murid dan pendidiknya. Sehingga guru atau pendidik seharusnya memang harus mendidik (dengan) sepenuh hati. Tanpa mengharap pamrih dan jasa. Semoga!

 

 

 

Klik Icon Di Bawah Untuk Membagikan Artikel
: 248 Post Views

TINGGALKAN KOMENTAR