Saya selalu kagum pada rencana kerja sekolah. Tebalnya bisa mengalahkan buku telepon zaman dulu. Disusun serius. Dijilid rapi. Diresmikan dengan tanda tangan basah. Setelah itu? Masuk lemari. Lemarinya bagus. Isinya jarang dibuka.
Di situlah kegagalan mulai bekerja. Diam-diam. Tanpa surat tugas.
Sebagai kepala sekolah, saya belajar satu hal penting: kegagalan sering bukan karena kita bodoh, tapi karena kita terlalu percaya diri pada kertas. Kita lupa bahwa sekolah itu hidup. Gurunya manusia. Muridnya penuh kejutan. Kebijakan datang mendadak, seperti hujan deras saat menjemur pakaian.
Merencanakan kegagalan bukan berarti menyerah. Justru sebaliknya. Ini soal kejujuran intelektual. Kalau program A tidak jalan, apakah kita punya program B? Atau kita hanya punya alasan A, B, sampai Z? Banyak rencana gagal bukan karena idenya jelek, tapi karena terlalu sempurna untuk dunia nyata.
Gaya Dahlan Iskan selalu mengingatkan: jangan ribet kalau bisa sederhana. Rencana kerja setahun seharusnya seperti setir mobil, bukan pajangan. Bisa dibelokkan. Bisa direm. Bisa dipercepat. Kalau tidak, sekolah berjalan tapi sopirnya bingung.
Di sekolah, humor itu penting. Guru tertawa saat rapat, bukan karena materi lucu, tapi karena realitas sering lebih jenaka dari proposal. Target tinggi, anggaran tipis. Program banyak, waktu sedikit. Kalau ini bukan bahan stand up comedy, entah apa namanya.
Kepala sekolah yang baik bukan yang tidak pernah gagal, tapi yang cepat belajar. Evaluasi bukan mencari kambing hitam, tapi mencari jalan pulang. Rencana boleh gagal, tapi akal sehat jangan.
Maka, mari merencanakan dengan sadar. Fleksibel. Manusiawi. Karena jika kita tidak merencanakan dengan baik, kegagalan akan mengambil alih—tanpa rapat, tanpa spanduk, dan tanpa sambutan pembuka.